<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ISTECS Europe</title>
	<atom:link href="http://www.istecs.nl/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.istecs.nl</link>
	<description>Towards Empowering and Enlightening Society</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 May 2010 07:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Studi Kasus Penanggulangan Banjir di Indonesia dan Belanda</title>
		<link>http://www.istecs.nl/studi-kasus-penanggulangan-banjir-di-indonesia-dan-belanda/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/studi-kasus-penanggulangan-banjir-di-indonesia-dan-belanda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 13:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin ISTECS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/studi-kasus-penanggulangan-banjir-di-indonesia-dan-belanda/</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Andry Rustanto*
Studi Kasus di Indonesia
Banjir, adalah hal yang tak asing didengar dan dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Banjir dikatakan sebagai bencana bagi manusia jika mengganggu aktivitas kehidupan serta menyebabkan kerugian atau kerusakan pada fasilitas atau properti milik manusia. Kata-kata bencana banjir sudah sering tertera di surat kabar atau diberitakan di televisi. Jakarta (kompas 2009), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-178" title="Andry" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/05/Andry.JPG" alt="Andry" width="141" height="174" /></p>
<p style="text-align: center;">Oleh: Andry Rustanto*</p>
<p><strong>Studi Kasus di Indonesia</strong></p>
<p>Banjir, adalah hal yang tak asing didengar dan dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Banjir dikatakan sebagai bencana bagi manusia jika mengganggu aktivitas kehidupan serta menyebabkan kerugian atau kerusakan pada fasilitas atau properti milik manusia. Kata-kata bencana banjir sudah sering tertera di surat kabar atau diberitakan di televisi. Jakarta (kompas 2009), Semarang (detiknews 2009) dan Surabaya (liputan6.com 2010) adalah beberapa kota besar pesisir yang kerap dilanda banjir setiap tahunnya. Banjir juga kerap melanda beberapa daerah di hulu sungai, seperti Bandung (antara 2008) dan Pacet di Mojokerto (detiknews 2006) beberapa waktu lalu.<br />
Banjir yang terjadi di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh curah hujan dengan intensitas dan jumlah yang tinggi tanpa diimbangi oleh kapasitas tampung yang memadai pada badan sungai atau tempat penampungan air lainnya (danau, situ) dan atau pasang naik air laut pada wilayah pesisir. Seperti diketahui bahwa hujan yang terjadi di Indonesia umumnya memiliki tipe konvektif yang dicirikan dengan curahan yang besar dalam tempo singkat. (Barry &amp; Chorley, 1998). Hujan konvektif (Ilustrasi 1) adalah peristiwa kondensasi awan akibat sirkulasi udara yang bergerak naik karena perbedaan pemanasan oleh matahari. Selain hujan konvektif, sebagian wilayah Indonesia juga mengalami hujan orografis (Ilustrasi 2) atau hujan yang turun kerena kondensasi awan yang bergerak naik mengikuti topografi yang bergunung. Tipe hujan ini terjadi pada wilayah lereng pegunungan yang menghadap ke arah datangnya angin pembawa hujan. Faktor orografis cukup dominan dalam mempengaruhi jumlah dan intensitas hujan yang tinggi di beberapa wilayah Indonesia (Soehoed, 2007). Dua tipe hujan ini memberikan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkisar antara 1500 mm/tahun sampai dengan 4250 mm/tahun (Djajadilaga et al., 2009).</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-172" title="ilustrasi1" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/05/ilustrasi1-300x205.jpg" alt="ilustrasi1" width="300" height="205" /></p>
<p style="text-align: center;">Ilustrasi 1 : Hujan Konvektif (Sumber : Atlas Nasional, Bakosurtanal)</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-173" title="ilustrasi2" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/05/ilustrasi2-300x144.jpg" alt="ilustrasi2" width="300" height="144" />Ilustrasi 2 : Hujan Orografis (Sumber : http://z.about.com/d/weather)</p>
<p>Pendekatan kebijakan pencegahan bencana banjir di Indonesia lebih banyak dilakukan secara ekologis dalam satuan daerah aliran sungai (DAS) (Soehoed, 2007). Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam melakukan analisa hidrologis daerah yang bersangkutan. DAS (Ilustrasi 3) adalah suatu area yang dibatasi oleh topografi dimana air hujan yang jatuh diatasnya dialirkan menuju satu pintu keluar utama atau sungai utama. Jumlah curah hujan (P) yang jatuh di suatu DAS kurang lebih akan sama dengan jumlah aliran permukaan (Q) ditambah dengan jumlah air yang meresap ke dalam tanah ( ) dan air yang menguap ke atmosfer (E). Dapat dirumuskan sebagai berikut :</p>
<p>Memperhatikan formulasi di atas, kejadian banjir erat kaitannya dengan proporsi curah hujan yang menjadi aliran permukaan. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas curah hujan dan kemampuan permukaan tanah dalam meresapkan air. Intensitas hujan yang tinggi tanpa diimbangi dengan kemampuan tanah untuk meresapkan air akan menyebabkan tingginya proporsi air hujan yang menjadi aliran permukaan. Tingginya aliran permukaan tanpa diiringi dengan kapasitas tampung yang memadai pada badan sungai atau drainase dan tempat-tempat penamampungan air lainnya (situ/danau), akan menyebabkan tingginya potensi kejadian banjir.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-171" title="untitled1" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/05/untitled1.JPG" alt="untitled1" width="433" height="393" /></p>
<p align="center">Illustrasi 3: Daerah aliran sungai (DAS) (sumber :http://bebasbanjir2025.wordpress.com)</p>
<p>Kemampuan tanah untuk meresapkan air dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain karakteristik tanah serta penutupan/penggunaan lahan di atasnya. Salah satu karakteristik tanah yang mempengaruhi kemampuan tanah dalam meresapkan air adalah ketebalan lapisan tanah dan tekstur tanah. Tekstur tanah dicirikan dengan perbandingan kandungan partikel debu, pasir dan liat. Tanah yang memiliki kandungan liat yang tinggi akan lebih cepat jenuh air dibandingkan dengan tanah yang memiliki kandungan pasir yang tinggi. Sementara itu ketebalan lapisan tanah dapat juga memperngaruhi kapasitas peresapan air. Penutupan/penggunaan lahan mencirikan tutupan vegetasi dan non-vegetasi beserta aktivitas manusia di atas permukaan tanah. Penutupan vegetasi dapat menjadi penghambat sampainya air hujan ke permukaan tanah. Hal ini memperlambat tingkat penjenuhan permukaan tanah yang berimplikasi pada peningkatan peresapan air ke dalam tanah. Penggunaan tanah untuk aktivitas manusia yang menyebabkan permukaan tanah menjadi kedap air atau terkompaksi akan menyebabkan besarnya proporsi air hujan yang menjadi aliran permukaan. Penggunaan tanah oleh manusia juga cenderung untuk mengambil alih tempat-tempat parkir air (sawah, rawa, situ) atau tempat yang memang secara alamiah menjadi jalur air (dataran banjir).</p>
<p>Pendekatan ekologis dalam satuan DAS digunakan dengan pertimbangan bahwa seluruh DAS yang ada masih dalam wilayah administrasi NKRI, sehingga kebijakan pendekatan ekologis dalam satuan DAS masih memungkinkan untuk dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya, setiap DAS atau beberapa DAS memiliki satu badan pengelola yang dikenal dengan Badan Pengelola DAS atau disingkat BPDAS. Badan ini ada dibawah naungan Departemen Kehutanan RI. Namun demikian penjelasan kepada publik masih perlu dipertegas mengenai koordinasi antara BPDAS dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat mengenai kebijakan yang diterapkan. Hal ini diperlukan mengingat dengan diterapkannya otonomi daerah sampai dengan kabupaten/kota akan membuka lebar kemungkinan adanya konflik kepentingan dari kebijakan badan-badan tersebut pada wilayah yang sama.</p>
<p>Langkah pencegahan bencana banjir di Indonesia antara lain dengan menormalisasi dan memelihara fungsi wilayah sempadan sungai, membangun tanggul sungai, memelihara daerah tangkapan air di hulu sungai, menormalisasikan tempat-tempat penampungan air dan menegakkan aturan penataan ruang. Namun demikian untuk beberapa wilayah urban seperti Jakarta, langkah praktis dengan pembangunan banjir kanal telah dilakukan. Pedoman mengenai penataan ruang di kawasan rawan banjir telah dibuat dan diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum RI (www.penataanruang.net).</p>
<p><strong>Studi Kasus Di Belanda</strong></p>
<p>Belanda adalah salah satu negara yang beberapa wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Disamping itu negara ini juga menjadi muara dua sungai besar, yaitu Rhine dan Maas. Dengan demikian resiko banjir di negara ini datang dari laut utara dan dari kedua sungai besar tersebut. Pada musim pasang naik muka air laut maka resiko banjir utama datang dari laut, sedangkan pada musim penghujan dan pelelehan es maka resiko utama datang dari sungai. Namun demikian tidak menutup kemungkinan resiko datang dari keduanya pada saat yang bersamaan.</p>
<p>Sungai Rhine berhulu di Swiss, Austria dan Jerman, sedangkan Maas berhulu di Perancis. Dengan demikian maka pancegahan bencana banjir menjadi tanggungjawab masing-masing negara yang dilewati oleh sungai-sungai tersebut dan akan sangat sulit menjadi satu kesatuan dalam lingkup DAS. Memperhatikan hal tersebut, maka kejadian banjir perlu diprediksi untuk menentukan langkah-langkah pencegahan bencana banjir. Salah satu langkah prediksi yang dilakukan adalah dengan menganalisa frekuensi kejadian banjir dari catatan sejarah. Dari analisa kejadian sepanjang sejarah disimpulkan bahwa semakin sering kejadian banjir berulang (diindikasikan dengan ketinggian banjir) semakin kecil pula magnitude atau kekuatan yang mengakibatkan bencana, dan sebaliknya semakin jarang kejadian berulang semakin besar magnitude atau kekuatan yang mengakibatkan bencana (ilustrasi 4). Analisis ini dapat pula dicontohkan melalui kejadian banjir di Jakarta, dimana kejadian banjir 5 tahunan memiliki magnitude atau kekuatan yang lebih besar dibandingkan kejadian banjir tahunan.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-174" title="ilustrasi 4" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/05/ilustrasi-4-300x136.jpg" alt="ilustrasi 4" width="300" height="136" />Ilustrasi 4 : Analisis frekuensi kejadian dan kekuatan banjir (Sumber : ITC Geo-Hazard Course 2009)</p>
<p>Dari analisis ini kemudian diperkirakan kebutuhan yang diperlukan untuk langkah-langkah antisipasi. Antisipasi banjir dari sungai diterapkan melalui sistem tanggul sedangkan antisipasi banjir karena pasang naik air laut dilakukan dengan sistem pintu air. Tanggul sungai (ilustrasi 5) dibangun di tepi sungai di sepanjang daerah yang dimanfaatkan oleh manusia yang rawan inudasi dari sungai. Tanggul dibedakan menjadi tanggul untuk musim panas yang lebih kecil dan berada lebih dekat ke sungai (embankment) serta tanggul musim dingin yang lebih besar dan lebih dekat dengan lokasi aktivitas manusia (dike). Tanggul ini juga membatasi ruang untuk air sungai dan ruang untuk aktivitas manusia. Daerah di antara tanggul dan badan sungai hanya bisa dimanfaatkan untuk peternakan pada saat kering dan menjadi ruang untuk air pada saat sungai meluap. Pintu air (foto 1) akan membuka jika air laut surut dan menutup jika air laut pasang untuk mencagah banjir ke daratan.</p>
<p>Dimensi tanggul ditentukan dengan standar ferkuensi analisis yang berbeda untuk tiap daerah (ilustrasi 6). Semakin penting fungsi daerah dan semakin terletak ke hilir, semakin tinggi standar yang diterapkan (Pilarczyk, 2007). Standar frekuensi berulang banjir yang diterapkan berkisar antara 10.000 tahun sampai dengan 1.250 tahun. Wilayah-wilayah seperti Amsterdam, Rotterdam dan Denhaag diproteksi dengan tanggul yang dirancang untuk menahan banjir dengan frekuensi berulang 10.000 tahun., sedangkan Arnhem dan Nijmegen diproteksi dengan tanggul yang dirancang dengan frekuensi berulang 1.250 tahun.</p>
<p><strong>Kesimpulan dan Saran</strong></p>
<p>Pendekatan penanggulangan bencana banjir di Indonesia secara secara umum masih kurang memperhatikan aspirasi masyarakat, disamping belum efektifnya kebijakan pemerintah daerah dan pusat beserta perundang-undangannya dalam menanggulangi bencana banjir karena sangat bergantung pada APBN dan APBD (LPM UI, 2004). Oleh karena itu keterlibatan masyarakat hendaknya dapat ditingkatkan dengan upaya-upaya penanggulangan banjir secara partisipatif, sebagai contoh dengan melakukan pemetaan wilayah banjir dan kerentanan resikonya terhadap masyarakat dengan observasi lapangan dan wawancara. Selanjutnya, hasil dari pendekatan partisipatif tersebut dijadikan sebagai input dalam metodologi pendekatan empiris yang dilakukan dalam upaya-upaya penanggulangan banjir. Sebagai tambahan, metodologi pendekatan penanggulangan banjir secara proses fisik yang melibatkan seluruh faktor fisik penyebab banjir dapat diterapkan sehingga dapat menghasilkan pemahaman tentang kejadian bencana banjir secara komprehensif sekaligus dapat memsimulasikan skenario kejadian banjir. Hasil investigasi secara empiris dan proses fisik selanjutnya diintegrasikan dalam rencana pembangunan wilayah rawan banjir tersebut sebagai upaya penanggulangan bencana banjir. Faktor biaya dan manfaat (cost &amp; benefit) dalam usaha-usaha penanggulangan banjir tersebut hendaknya dipertimbangkan agar kebutuhan dana dari APBN ataupun APBD dapat diperkirakan dengan akurat. Pertimbangan biaya dan mafaat pada wilayah-wilayah rawan banjir yang diperkirakan dapat mendatangkan potensi ekonomis yang tinggi setelah masalah banjir teratasi dapat pula melibatkan dana non-pemerintah sehingga mengurangi beban APBN ataupun APBD.</p>
<p>Belajar dari pengalaman negara maju seperti Belanda, penanggulangan bencana banjir merupakan interaksi yang kompleks antara aspek ekonomi, institusi (managemen sungai dan banjir), politik dan iklim (Tol &amp; Langen, 2000). Upaya-upaya penganggulangan banjir yang dilakukan di negara ini diperhitungkan dengan memperhatikan faktor biaya dan manfaat (cost &amp; benefit) dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi terutama pertanian, permukiman dan pertumbuhan pusat-pusat kegiatan. Dengan semakin meningkatnya kegiatan ekonomi dengan pusat-pusat kegiatannya disusul dengan meningkatnya kebutuhan permukiman di satu sisi, sementara debit maksimum sungai semakin meninggi yang disinyalir sebagai akibat deforestasi di wilayah hulu yang berada di Jerman pada sisi lain, mengakibatkan ukuran tanggul dibuat semakin besar dan tinggi. Namun demikian, potensi bencana besar jika tanggul-tanggul tersebut mengalami jebol tidak dapat dihindarkan karena wilayah-wilayah yang awalnya rawan banjir telah menjadi permukiman, wilayah pertanian, industri maupun pusat kegiatan lain (Enserink, 2004). Implikasinya, perawatan dan pengawasan yang intensif diperlukan untuk menghindarkan malapetaka akibat jebolnya tanggul tersebut sebagaimana terjadi pada tahun 1953. Terobosan baru yang dilakukan pihak pengelola tanggul bersama dengan otoritas setempat adalah dengan menyiapkan ruang yang lebih luas bagi sungai yang dikenal dengan program “room for the river”. Program ini mengembalikan fungsi-fungsi bantaran sungai yang selama ini dimanfaatkan manusia sebagai ruang bagi air pada waktu-waktu debit maksimum.</p>
<p>Masa depan penanggulangan banjir di Indonesia dapat mengadaptasi metode yang berhasil di terapkan di Belanda pada beberapa daerah yang memiliki karakteristik morfologi wilayah hilir seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya. Namun demikian, metode lama yang diterapkan dengan perbaikan (lihat paragraph 1) juga menjanjikan penaggulangan banjir yang juga lebih baik. Hal ini perlu didukung dengan kedisplinan pemerintah dan masyarakat dalam mengaplikasikan rencana-rencana penanggulangan bencana banjir yang terintegrasi dalam rencana pembangunan wilayah dan diperkuat dengan paying hukum.</p>
<p>*Penulis adalah alumni ITC Enschede, The Netherlands, sekarang sebagai Staf Pengajar di Departemen Geografi &#8211; FMIPA, UI, Email: arus_81@yahoo.com</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>http://megapolitan.kompas.com/read/2009/11/19/07132248/Puncak.Banjir.Jakarta.Bulan.Januari.2010<br />
http://www.detiknews.com/read/2009/02/08/184016/1081385/10/banjir-semarang-landa-8-kecamatan<br />
http://berita.liputan6.com/daerah/201002/261955/Banjir.Rendam.Jalanan.di.Surabaya<br />
http://www.antara.co.id/view/?i=1207631471&amp;c=WBM&amp;s=<br />
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/01/tgl/24/time/222759/idnews/525486/idkanal/10<br />
http://www.bakosurtanal.go.id/?m=91&amp;static=35<br />
http://z.about.com/d/weather<br />
http://bebasbanjir2025.wordpress.com<br />
Geo-Hazard module 8-10 2009 course. ITC Enschede, The Netherlands<br />
Room for the river brochure<br />
blog.twoagespilgrim.com</p>
<p>Barry, R., &amp; Chorley, R. (1998). Atmosphere, Weather and Climate (Eight Edit.). Routledge. Retrieved from http://www.amazon.com/Atmosphere-Weather-Climate-Roger-Barry/dp/0415160200.<br />
Djajadilaga, M., Agustina, H., Pribadi, W., Harimurti, Lindawati, Gaol, L. P., et al. (2009). Status Lingkungan Hidup Indonesia 2008 (State of Environment Report of Indonesia). Jakarta.<br />
Enserink, B. (2004). Thinking the unthinkable &#8211; the end of the Dutch river dike system? Exploring a new safety concept for the river management. Journal of Risk Research, 7(7), 745-757. doi: 10.1080/13669870210166185.<br />
LPM UI. (2004). Kajian Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonesia:Partisipasi Masyarakat. Jakarta.<br />
Pilarczyk, K. (2007). Extreme Hydrological Events: New Concepts for Security. Extreme Hydrological Events: New Concepts for Security, NATO Science Series (Vol. 78, pp. 385-407). Dordrecht: Springer Netherlands. doi: 10.1007/978-1-4020-5741-0.<br />
Soehoed, A. (2007). Kebijakan Nasional Untuk Pengendalian Banjir. In Kaji Ulang Arah Kebijakan Nasional Pengelolaan Sumber Daya Air (p. 27). Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.<br />
Tol, R. S., &amp; Langen, A. (2000). A Concise History of Dutch River Floods. Climatic Change, 46, 357-369.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/studi-kasus-penanggulangan-banjir-di-indonesia-dan-belanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan teknologi micro/nano manufacturing dan potensi pengembangannya di Indonesia</title>
		<link>http://www.istecs.nl/perkembangan-teknologi-micronano-manufacturing-dan-potensi-pengembangannya-di-indonesia/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/perkembangan-teknologi-micronano-manufacturing-dan-potensi-pengembangannya-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 20:48:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin ISTECS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/perkembangan-teknologi-micronano-manufacturing-dan-potensi-pengembangannya-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[oleh:
Agung Purniawan*

1.	PENDAHULUAN
Proses manufaktur adalah proses merubahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau jadi. Istilah proses manufaktur telah lama di gunakan dalam bidang permesinan, misalnya proses pemotongan, gerinda, drilling dll. Proses manufaktur konvensional menggunakan proses mekanis seperti dengan memanfaatkan kekerasan material sebagai mata pahat/mata potong dengan kecepatan dan tekanan yang diberikan sehingga bisa melakukan pemotongan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">oleh:<br />
Agung Purniawan*<br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-153" title="Photo" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/03/Photo.JPG" alt="Photo" width="175" height="196" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.	PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Proses manufaktur adalah proses merubahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau jadi. Istilah proses manufaktur telah lama di gunakan dalam bidang permesinan, misalnya proses pemotongan, gerinda, drilling dll. Proses manufaktur konvensional menggunakan proses mekanis seperti dengan memanfaatkan kekerasan material sebagai mata pahat/mata potong dengan kecepatan dan tekanan yang diberikan sehingga bisa melakukan pemotongan pada spesimen. Perkembangan teknologi ini selanjutnya dengan memanfaatkan energi yang lain misalnya dengan tekanan dan kecepatan tinggi (<em>jet maching</em>), EDM (<em>electric discharge machining</em>) dll. Proses ini sudah menghasilkan produk yang cukup presisi namun terbatas untuk bidang mekanik dan masih kurang untuk aplikasi di bidang elektronik misalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini proses manufaktur sudah pada level <em>micro/nano manufacturing</em>. Bagaimana ini bisa dilakukan? Teknologi ini tidak menggunakan metode seperti proses sebelumnya, namun dengan menggunakan larutan kimia atau dengan plasma yang disebut dengan etsa (<em>etching</em>) . Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan sifat material yang korosif terhadap larutan tertentu dan disatu sisi ada material yang tahan terhadap larutan tersebut. Selain menggunakan larutan (wet etching) proses ini juga menggunakan plasma/ion  (<em>dry etching</em>) dalam proses ini.  Teknologi <em>micro/nano manufacturing</em> ini saat ini sangat penting dalam mendukung bidang – bidang yang berkaitan dengan <em>nanotechnology, microelectronic, optoelectronic, micromachines, microfluidic, Nano/Micro Electronic Mechanical System (NEMS/MEMS)</em> dll. [1]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.	LITHOGRAPHY</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rangkaian proses yang sangat penting dalam micro/nano manufacturing adalah proses lithography yaitu proses membuat struktur dengan menggunakan pola yang disebut mask dengan terlebih dahulu melapisi dengan photoresist (sejenis polymer), kemudian di lakukan penyinaran dengan UV (<em>exposure</em>) diikuti dengan membuang photoresist yang tidah terpakai dan selanjutnya dietsa, seperti ditujukkan oleh Gambar 1. Lithography sebenarnya adalah teknologi yang sudah lama sejak tahun 1796 dengan aplikasi yang sederhana pada waktu itu dengan menggunakan oli atau lemak [2]. Litography saat ini berkembang dengan menggunakan sinar ultra violet (<em>photolithography</em>) dan electron beam (E-Beam Lithography) serta menggunakan larutan kimia atau plasma untuk proses etsanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-151" title="lithography" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/03/lithography.bmp" alt="lithography" /></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Gambar 1.</strong> Siklus proses dalam Photolithography</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Gambar  1<strong> </strong>diatas menunjukkan sebuah siklus dimana dalam sebuah proses photolithography, proses dilakukan secara berulang-ulang beberapa kali tergantung struktur yang akan dibuat dan tingkat kesulitan dari struktur yang diharapkan. Material yang biasa digunakan sebagai substrat adalah  Silicon (Si-wafer) atau Glass (Glass-wafer). Kemudian dilakukan coating dengan photoresist dan setelah itu dilakukan penyinaran (exposure) dengan UV (ultra violet). Ada beberapa jenis panjang gelombang yang  biasa digunakan dalam exposure ini antara lain blue UV (mercury g-line, 436nm), mercury i-line 365nm, deep UV (DUV), vacuum UV (VUV) serta  extreme UV (EUV). Beberapa jenis polimer terdekomposisi dengan UV sehingga bagian yang terbuka ikatan polimernya terdekomposisi dan jenis yang lain polimer akan semakin kuat setelah exposure.  Setelah itu dilakukan developing untuk membuang sisa polimer yang terdekomposisi dan kemudian di etching dengan menggunakan wet etching (larutan kimia misal HF, BHF, KOH dll) atau dengan dry etching (plasma).  Setelah ini di bersihkan. Maka akan didapat wafer dengan pola diatasnya.  Proses lithography ini banyak di gunakan di fabrikasi Integrated Circuit (IC processing), CMOS, fabrikasi sensor dan  MEMS (Microelectronic Mechanical system).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perkembangan terknologi saat ini, telah dikembangkan teknologi terbaru dalam proses micro/nano manufacturing ini yaitu E-Beam Lithography. Teknologi ini sangat membantu dalam proses micro/nano manufacturing, karena teknologi ini tidak lagi memerlukan mask yang dalam proses pembuatannya sangat mahal dan hanya untuk pola tertentu saja. Ini sangat membantu dalam proses riset yang memerlukan experiment untuk banyak desain dari sebuah device. Di dalam E-Beam Lithography, mask bisa didesain di software dengan variasi yg bisa disesuaikan dengan bentuk dan desain dari peralatan dan langsung diaplikasikan di dalam proses lithography tanpa memindahkan desain tersebut ke mask sehingga tidak perlu mask.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu perusahaan yang bergerak dibidang lithography ini adalah Mapper sebuah perusahaan yang bermarkas di Delft, Belanda yg merupakan perusahaan hasil pengembangan hasil  riset di Delft University of Technology (TU Delft) yang saat ini mendapat subsidi dalam pengembangan teknologi ini di Belanda. Dengan alat ini, bisa membuat pola dengan tingkat presisi 22 nm[3].  Perkembangan ilmu micro/nano manufacturing ini terus berlanjut, pada saat ini sudah ada alat yg bisa digunakan untuk membuat lapisan tipis <em>(thin film)</em>, lithography, dan sekaligus plasma etching yakni  Focus Ion Beam (FIB). Alat ini dapat melakukan proses tersebut dalam waktu yang sangat singkat namun memerlukan operator yang berpengalaman dan biaya cukup mahal.  Gambar 2 menunjukkan struktur nano dari hasil proses manufaktur ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-152" title="Nano struktur" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/03/Nano-struktur.bmp" alt="Nano struktur" /><strong><br />
Gambar 2</strong>. Struktur (a) jembatan  dan (b) tahanan yang disusun paralel dalam skala nano dengan material Diamond Like Carbon (DLC) [4]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.	POTENSI PENGEMBANGANNYA DI INDONESIA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia teknologi ini masih langka mengingat kondisi perkembangan perusahaan di bidang elektronik misal fabrikasi Integrated Circuit (IC processing), dan alat – alat kontrol berbasis sensor di Indonesia masih kurang berkembang sehingga tuntutan akan inovasi baru dan dukungan untuk pengembangannya dari industri kurang. Namun kalau dari sisi riset teknologi ini akan sangat berguna. Jika diamati lebih jauh kenapa penelitian di Indonesia sulit untuk mendapatkan hasil produk yang aplikatif dan siap pakai karena adanya gap antara desain dan realisasinya. Khususnya bidang – bidang yang menyangkut pengembangan dibidang teknologi  material yang merupakan fungsi dari sebuah sistem misalnya microelectronic, sensor, telekomunikasi, energi dll. Teknologi micro/nano manufacturing merupakan teknologi yang bisa memberikan kontribusi pada pengembangan di bidang teknologi tersebut sehingga hasil dari riset di Indonesia berupa riset jadi yang siap pakai dan dapat digunakan di masyarakat. Hasil dari riset yang aplikatif akan menjadikan pemicu industri untuk mengembangkannya dan berinvestasi dalam memproduksi hasil dari penelitian ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4.	DAFTAR PUSTAKA</strong><br />
[1].	S. Franssila, Introduction to Microfabrication, John Willey &amp; Son, Finland, 2004<br />
[2].	 “Lithography roadmap on track”, Nature Photonics 4, 20 (2010) http://www.nature.com/nphoton/journal/v4/n1/full/nphoton.2009.253.html<br />
[3].	http://en.wikipedia.org/wiki/Lithography<br />
[4].	B. Bhushan, Handbook of Nano-Technology, 2nd edition, Springer, New York, 2007</p>
<p style="text-align: justify;">*Penulis adalah mahasiswa S3 di Delft Institute of Microsystem dan Nanoelectronics (DIMES), Department of Microelectronics, TU Delft, Belanda juga sebagai staf pengajar di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi FTI-ITS Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/perkembangan-teknologi-micronano-manufacturing-dan-potensi-pengembangannya-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MULTIFERROIC: Kawin silang sifat bahan FERROELEKTRIK dan FERROMAGNETIK (bagian 1)</title>
		<link>http://www.istecs.nl/multiferroic-kawin-silang-sifat-bahan-ferroelektrik-dan-ferromagnetik-bagian-1/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/multiferroic-kawin-silang-sifat-bahan-ferroelektrik-dan-ferromagnetik-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 07:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istecs_nl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin ISTECS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/multiferroic-kawin-silang-sifat-bahan-ferroelektrik-dan-ferromagnetik-bagian-1/</guid>
		<description><![CDATA[ 

oleh: Abdul Muiz*
Dalam kehidupan sehari-hari, disadari maupun tidak, hidup kita tidak terlepas dari bahan-bahan yang memiliki sifat ferroelektrik dan ferromagnetik. Sebagai contoh, tulisan ini disusun menggunakan komputer dengan spesifikasi harddisk 150 GB dan memori 1 GB. Transfer-transfer data dari rumah ke tempat kerja seringkali dilakukan menggunakan flashdisk (USB stick). Peranti-peranti memori ini adalah sebagian di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-149" title="photo" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/02/photo2.JPG" alt="photo" width="200" height="236" /></p>
<p style="text-align: center;">oleh: Abdul Muiz*</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, disadari maupun tidak, hidup kita tidak terlepas dari bahan-bahan yang memiliki sifat ferroelektrik dan ferromagnetik. Sebagai contoh, tulisan ini disusun menggunakan komputer dengan spesifikasi harddisk 150 GB dan memori 1 GB. Transfer-transfer data dari rumah ke tempat kerja seringkali dilakukan menggunakan flashdisk (USB stick). Peranti-peranti memori ini adalah sebagian di antara contoh kecil penggunaan bahan ferromagnetic.</p>
<p>Sebagai contoh ketika kita menggunakan lift untuk turun dari lantai yang tinggi. Jika jumlah orang di dalam lift itu berlebih dan terjadi over capacity, secara otomatis sensor berat dalam lift akan mencegah lift itu untuk bergerak hingga dikurangi bebannya. Saat menunggu untuk menyeberang jalan, berhentinya kita di pinggir perempatan jalan akan mengaktifkan lampu penyeberangan. Kemudian setelah tiba di tempat kerja, pintu masuk gedung akan terbuka secara otomatis karena sensor cahayanya mendeteksi kehadiran kita. Sensor-sensor ini banyak sekali memanfaatkan sifat bahan ferroelektrik.</p>
<p>Di luar aplikasi-aplikasi di atas, bahan-bahan ferroelektrik dan ferromagnetic ini sangat bermanfaat untuk kapasitor -yang menjadi unit terkecil dan terpenting dari hampir seluruh perangkat elektronik, baik di lingkup rumah tangga hingga lingkup yang lebih besar, maupun transducer yang mampu mengubah satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain. Sebagai contoh, konversi energi ini dapat terjadi dari energi listrik menjadi energi gerak semisal motor listrik. Divais (peranti) yang terkait dengan fungsi itu disebut actuator.</p>
<p>Apa sebetulnya yang dinamakan bahan ferroelektrik ini?</p>
<p>Secara klasik, kita mengenal adanya kutub-kutub positif dan negatif dalam bahan. Kutub-kutub ini berkaitan dengan muatan positif dan negatif di dalam bahan tersebut. Muatan positif itu berasal dari salah satu komponan dalam inti atom (proton), dan muatan negatif datang dari electron yang mengelilinginya. Di dalam sebuah atom yang netral, jumlah proton dan elektronnya berimbang. Selain itu, electron terdistribusi secara merata di sekeliling inti. Dengan demikian, tidak dijumpai kutub positif maupun negatif. Akan tetapi, jika diberikan medan listrik dari luar, eletron-elektron tersebut akan segera berusaha menjauhi arah medan tersebut. Akibatnya, distribusi eletron di sekitar inti tidak lagi merata. Di sini kemudian dijumpai adanya polarisasi (pengkutuban).</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-132  aligncenter" title="gambar 1" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/02/gambar-12.JPG" alt="gambar 1" width="305" height="208" /></p>
<p>Gambar 1: Interaksi antara medan listrik dengan atom dalam model klasik (gambar diambil dari situs Wikipedia).</p>
<p>Di sisi lain, bila terdapat atom yang jumlah proton dan eletronnya tidak berimbang (ini dapat dipahami karena atom tersebut cenderung untuk melepas elektronnya atau menyerap electron lain agar stabil), atom tersebut dikatakan bermuatan (ionik). Sebagai contoh, oksigen cenderung untuk menyerap dua electron, maka pada saat itu jumah elektronnya akan berlebih sehingga ion ini disebut O2-. Proses lepas-serap electron ini sering terjadi melalui ikatan kimia dalam sebuah molekul. Oksigen kita, sebagai contoh, yang kini ionik tersebut dapat mengambil kedua electron tambahannya dari dua buah atom hidrogen yang juga cenderung melepas masing-masing sebuah electron agar stabil. Inilah yang kita kenal dengan molekul air (H2O).</p>
<p>Persoalannya kemudian, apa yang terjadi dengan molekul yang terbentuk dari ion-ion bermuatan tersebut? Sepintas akan langsung terbayang oleh kita bahwa tentu molekul tersebut akan menjadi polar (memiliki kutub) pula. Pada kasus tertentu, molekul tersebut akan tetap non polar. Ini misalnya terjadi dalam molekul yang memiliki simetri tinggi, misalnya berstruktur linear (lurus) dan arah polarisasinya saling meniadakan. Akan tetapi secara umum, molekul tersebut akan menjadi polar, karena arah polarisasinya tidak saling menghilangkan. Besarnya polarisasi ini dapat diukur di laboratorium.</p>
<p>Pada kasus air, struktur paling stabil dimiliki molekul tersebut tidak dalam keadaan linear, akan tetapi agak melengkung membentuk huruf V. Ini menyebabkan molekul air polar. Karena itu, air seringkali dijadikan model standar untuk memahami molekul yang memiliki kutub listrik. Dalam Gambar 2, kutub negatif berada di atas (karena ion O2-), sedangkan kutub positif berada di bawah (karena kedua ion H+). Bila diberikan medan listrik yang berlawanan, polarisasi dalam air dapat berubah mengikuti medan tersebut, karena kini ion oksigen dapat berada di bawah.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-145  aligncenter" title="gambar 2" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/02/gambar-22-300x100.jpg" alt="gambar 2" width="300" height="100" /></p>
<p>Gambar 2: a) Molekul air (gambar diambil dari situs Wikipedia) dan b) Momen dipol pada air.</p>
<p>Dari penggambaran tersebut, kita dapat menggeneralisasi keberadaan polarisasi listrik akibat kehadiran ion-ion bermuatan tersebut pada sistem-sistem yang lain. Di dalam zat padat misalnya, di mana atom-atomnya tersusun secara teratur mengikuti kaidah simetri tertentu, polarisasi listrik ini dapat pula muncul. Dalam keadaan simetri yang tinggi, polarisasi yang diakibatkan oleh ion-ion penyusun kristal tersebut saling meniadakan, sehingga polarisasi total secara makroskopik tidak muncul (Gambar 3 kiri). Akan tetapi, bila terjadi distorsi, misalnya pada suhu yang rendah, ion-ion tersebut dapat bergeser sehingga memiliki simetri yang lebih rendah. Dalam keadaan ini, polarisasi listrik secara local tidak mampu saling meniadakan, sehingga terjadi kutub listrik secara makroskopik (Gambar 3 kanan). Dikarenakan susunan ionnya yang teratur di dalam kristal, arah polarisasinya pun akan seragam ke arah tertentu. Dalam gambar 3, polarisasi digambarkan muncul ke arah sumbu-z (menuju atas) karena ion positifnya bergeser ke atas. Polarisasi listrik dalam kristal ini kemudian menjadi salah satu topik penelitian utama di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-146  aligncenter" title="gambar 3" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/02/gambar-31-300x147.jpg" alt="gambar 3" width="300" height="147" /></p>
<p>Gambar 3: Contoh polarisasi yang terjadi pada kristal BaTiO3 karena pergeseran ion Ti4+ dari pusat koordinasi oktahedral dengan ion-ion O2- di sekitarnya. Bahan ini merupakan salah satu sample ferroelektrik tertua yang ditemukan dan telah dipelajari sejak lebih dari 60 tahun lalu.</p>
<p>Secara definisi, bahan ferroelektrik adalah bahan yang memiliki polarisasi spontan yang arahnya dapat dibalik jika diberikan medan listrik dari luar. Dikatakan spontan, karena dalam sebagian material, polarisasi dapat terjadi hanya pada saat diberikan medan listrik. Ketika medan tersebut dihilangkan, ion-ion akan kembali ke tempatnya semula, sehingga polarisasinya menjadi hilang. Dalam bahan ferroelektrik, saat medan tersebut dihilangkan, ion-ionnya tidak kembali, sehingga polarisasinya tetap tinggal di sana. Bila diberikan medan dengan arah berkebalikan, besar polarisasinya akan berkurang, dan pada saat tertentu, akan nol kembali. Jika tetap diteruskan pemberian medannya, arah polarisasi listrik tersebut dapat berbalik. Perilaku ini digambarkan dengan kurve histeresis.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-139" title="gambar 4" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/02/gambar-4-300x220.jpg" alt="gambar 4" width="300" height="220" /></p>
<p>Gambar 4: Kurve histeresis ferroelektrik. P menggambarkan polarisasi yang timbul, sedangkan E menggambarkan medan listrik yang diberikan (gambar diambil dari situs http://physics.cusat.ac.in/oed/research_area.htm).</p>
<p>Karena bahan ini merespon medan dari luar ini menjadi polarisasi listrik (akibat perubahan struktur dalam bahan), sifatnya ini kemudian dapat dimanfaatkan menjadi peranti-peranti seperti sensor dan transducer yang dijelaskan di muka tulisan ini. Selain itu, karena bahan ini juga adalah isolator yang memiliki sifat dielektrik yang tinggi, ferroelektrik dapat pula dimanfaatkan sebagai inti dari bermacam kapasitor.</p>
<p>Bagaimana dengan bahan ferromagnetik, dan apa pula yang disebut multiferroic itu? Pertanyaan tersebut akan dijelaskan dalam bagian lanjutan tulisan ini, insya Allah.</p>
<p>*Penulis</p>
<p>Mahasiswa PhD di Rijksuniversiteit Groningen, Belanda</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/multiferroic-kawin-silang-sifat-bahan-ferroelektrik-dan-ferromagnetik-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencitraan otak memungkinkan pasien yang tak sadarkan diri untuk berkomunikasi</title>
		<link>http://www.istecs.nl/pencitraan-otak/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/pencitraan-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istecs_nl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar IPTEK]]></category>
		<category><![CDATA[acitivity]]></category>
		<category><![CDATA[brain scan]]></category>
		<category><![CDATA[unconscious]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Pasien yang tak sadarkan diri dapat merespon jawaban dengan memonitor aktivitas di beberapa bagian otak. Baca selengkapnya di sini








]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pasien yang tak sadarkan diri dapat merespon jawaban dengan memonitor aktivitas di beberapa bagian otak. Baca selengkapnya di <a href="http://www.nature.com/news/2010/100203/full/news.2010.53.html">sini</a></p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/pencitraan-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menolak Penghargaan Prestisius dan Uang $ 1000.000</title>
		<link>http://www.istecs.nl/menolak_penghargaan_prestisius_dan_uang__1000-000/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/menolak_penghargaan_prestisius_dan_uang__1000-000/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 19:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar IPTEK]]></category>
		<category><![CDATA[field medal]]></category>
		<category><![CDATA[matematika]]></category>
		<category><![CDATA[millennium problem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[ Tahukah anda, bahwa di dunia ini ada seseorang yang menolak uang sebesar $ 1000.000 padahal uang tersebut sudah menjadi haknya dia? Dan tahukah anda, bahwa dia juga ternyata menolak penghargaan Fields Medal, suatu penghargaan dalam dunia matematika yg disejajarkan dengan hadiah Nobel? Ya, dia adalah Grigory Perelman, seorang matematikawan rusia yang berhasil memecahkan salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AA&amp;IYA%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/AA&amp;IYA%7E1/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /><img class="alignleft size-full wp-image-115" title="md-200608-perelman" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2010/01/md-200608-perelman.jpg" alt="md-200608-perelman" width="136" height="136" /> Tahukah anda, bahwa di dunia ini ada seseorang yang menolak uang sebesar $ 1000.000 padahal uang tersebut sudah menjadi haknya dia? Dan tahukah anda, bahwa dia juga ternyata menolak penghargaan Fields Medal, suatu penghargaan dalam dunia matematika yg disejajarkan dengan hadiah Nobel? Ya, dia adalah Grigory Perelman, seorang matematikawan rusia yang berhasil memecahkan salah satu dari tujuh milenium problem dalam dunia matematika. Dia berhasil membuktikan Poincare conjecture, yang selama ini menjadi salah satu misteri bagi matematikawan.</p>
<p>Poincare conjecture adalah salah satu masalah klasik dalam matematika  yang singkatnya dapat digambarkan berikut. Sebuah lingkaran (<em>sphere</em>) dalam ruang dua dimensi, memiliki ciri khusus berupa terhubung secara sederhana (<em>simply connected</em>) dan <em>compact</em>.  Begitu juga dengan bola (<em>sphere</em>) yang berada dalam ruang tiga dimensi. Untuk ruang dgn dimensi yg lebih tinggi, orang sudah bisa membuktikan bahwa memang sphere adalah <em>simply connected</em> dan <em>compact</em>. Namun, dalam ruang tiga dimensi sendiri, yaitu bola, matematikawan kesulitan untuk membuktikan hal ini. Masalah ini sudah ditanyakan oleh Henri Poincare sejak tahun 1904 dan baru dibuktikan oleh Grigory pada tahun 2002-2003.</p>
<p>Namun, alih2 menerima penghargaan yg sangat prestisius dan hadiah yg sangat besar ini, Grigory ternyata malah menolaknya. Padahal dikabarkan, pada saat diumumkan bahwa dia memperoleh penghargaan dan uang tersebut, ia juga sedang tidak memiliki pekerjaan.</p>
<p>Selengkapnya klik <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/5274040.stm">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/menolak_penghargaan_prestisius_dan_uang__1000-000/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Systems Biology: Suatu Pendekatan dalam Memahami Kehidupan</title>
		<link>http://www.istecs.nl/systems-biology-suatu-pendekatan-dalam-memahami-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/systems-biology-suatu-pendekatan-dalam-memahami-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 05:47:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istecs_nl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin ISTECS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/systems-biology-suatu-pendekatan-dalam-memahami-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[Mochamad Apri*

Pendahuluan
Sejak dahulu, manusia berusaha mengungkap segala hal yang melandasi terjadinya proses kehidupan. Oleh karena itu, muncullah ilmu yang bernama Biologi yang mempelajari segala sesuatu tentang makhluk hidup. Trend mempelajari makhluk hidup yang dilakukan selama ini adalah dengan mempelajari komponen-komponen makhluk tersebut serta fungsinya secara terisolasi, seperti DNA, dan molekul-molekul protein yang terdapat di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Mochamad Apri*</p>
<p style="text-align: center;"><img title="Apri" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/10/Apri.jpg" alt="Apri" width="119" height="152" /></p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Sejak dahulu, manusia berusaha mengungkap segala hal yang melandasi terjadinya proses kehidupan. Oleh karena itu, muncullah ilmu yang bernama Biologi yang mempelajari segala sesuatu tentang makhluk hidup. Trend mempelajari makhluk hidup yang dilakukan selama ini adalah dengan mempelajari komponen-komponen makhluk tersebut serta fungsinya secara terisolasi, seperti DNA, dan molekul-molekul protein yang terdapat di dalam sel. Pendekatan seperti ini dikenal dengan istilah reduksionis. Dengan mempelajari bagian-bagian tersebut secara terpisah, diharapkan kita bisa memahami semua proses yang terjadi di dalam tubuh sehingga bisa memperoleh banyak manfaat, seperti misalnya pengobatan terhadap berbagai jenis penyakit.</p>
<p>Sayangnya, meskipun (hampir) semua bagian pada makhluk hidup telah dipelajari, sampai pada puncaknya suksesnya “Human Genome Project” yang berhasil memetakan seluruh gen yang terdapat dalam tubuh manusia [4], proses-proses yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup yang menghasilkan fungsi-fungsi yang menunjang proses kehidupan, masih menjadi misteri. Pertanyaan seperti bagaimana komponen-komponen di dalam tubuh bekerja sama sehingga menghasilkan fungsi tertentu, prinsip-prinsip apa yang yang mendasari interaksi komponen-komponen tersebut, masih belum terjawab. Akibatnya, sampai saat ini kita masih belum menemukan cara yang efektif untuk mengobati penyakit, seperti diabetes dan kanker.</p>
<p>Berangkat dari hal ini, para ilmuwan kemudian mulai beralih untuk mempelajari proses yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup dengan melihat seluruh komponen penyusun organisma dan interaksinya sebagai suatu sistem yang utuh. Hal ini dimotivasi oleh suatu asumsi bahwa fungsi atau reaksi atau perilaku yang dihasilkan oleh makhluk hidup merupakan hasil interaksi antara komponen-komponen penyusunnya. Mempelajari fungsi-fungsi dan struktur setiap protein yang menyusun suatu organisme memang penting, namun tidak cukup untuk mengerti apa yang terjadi di dalamnya. Hal ini analog apabila kita ingin mengerti proses yang terjadi di dalam kendaraan seperti mobil. Dalam hal ini, mempelajari bagian seperti ban, setir, aki, rem, serta jok memang penting, namun tidak cukup apabila kita ingin memperbaiki atau menservis mobil tersebut. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman kita terhadap hal-hal yang prinsip ketika seluruh komponen mobil tersebut bekerja bersama-sama.</p>
<p>Studi yang mempelajari makhluk hidup (organisma) secara sistematis yang kini dikenal dengan istilah Systems Biology, sebetulnya bukanlah hal yang baru. Hanya saja, dengan semakin majunya metode eksperimen dan komputasi, saat ini bidang System Biology menjadi salah satu bidang yang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah publikasi, munculnya jurnal baru, website, program mata kuliah yang ditawarkan di universitas, dan institute penelitian yang didirikan.</p>
<p>Kompleksitas</p>
<p>Kemajuan yang diperoleh dalam bidang Molecular Biology telah berhasil mengungkap molekul-molekul yang terlibat dalam proses biologi suatu organisme dimana jumlahnya sangat besar dan jenisnya sangat bervariasi. Sebagai contoh, berikut adalah jaringan transkripsi (jaringan di dalam sel yang bertugas mengontrol dan memproduksi protein sebagai respon atas informasi dari luar sel yang diterima oleh sel) bakteri Escherichia coli yang hanya menyajikan sekitar 20% dari jaringan sesungguhnya [1].</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-103" title="jaringan" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/10/jaringan.JPG" alt="jaringan" width="536" height="228" />  <br />
Gambar 1: Jaringan transkripsi bakteri Escherichia Coli, hanya 20% dari jaringan sesungguhnya [1]</p>
<p>Dari gambar di atas, kita melihat betapa banyaknya molekul-molekul yang terlibat dalam proses transkripsi di dalam sebuah bakteri. Ke-kompleks-an yang sama juga ditemukan pada jaringan metabolismenya. Bisa dibayangkan, betapa luar biasa kompleksnya jaringan biologi yang terdapat pada makhluk yang lebih tinggi seperti manusia, Subhanallaah!</p>
<p>Sebenarnya, jika hanya fungsi tertentu saja yang ingin dihasilkan oleh jaringan biologi dalam suatu organisme, maka dari perspektif engineering, jaringan yang diperlukan tidak perlu sedemikian banyak dan sedemikian rumit [2]. Namun, mengapa justru ke-kompleks-an tersebut terdapat dalam jaringan biologi? Dan mengapa jaringan tersebut terkesan berlebihan? Apa yang menjadi dasar ke-kompleks-an tersebut? Pertanyaan semacam ini masih berusaha diungkap dalam System Biology.</p>
<p>Kekokohan jaringan biologi</p>
<p>Salah satu sifat yang dimiliki oleh jaringan biologi dalam suatu organisme adalah kemampuan jaringan tersebut menjaga suatu fungsi atau karakteristik tertentu meskipun kondisi di dalam atau di luar tubuh organisma tersebut tidak stabil. Sebagai contoh, meskipun temperature lingkungan organisma tersebut berubah, atau di dalam tubuh organisma tersebut mengalami perubahan konsentrasi kimia, sampai pada level tertentu organisma tersebut dapat menjaga dan mempertahankan fungsi-fungsi tertentu [1-3]. Dengan demikian, ia bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan dapat bertahan dalam kondisi yang fluktuatif. Sebagai contoh, hal ini didapati pada proses pembentukan dalam masa perkembangan suatu organisma. Masa perkembangan suatu makhluk hidup dimulai dari satu sel, yaitu sel telur, kemudian berkembang menjadi banyak sel. Semua sel ini memiliki gen yang sama. Jika semua gen dari semua sel menghasilkan protein yang sama, tentunya organisma tersebut tidak akan mempunyai bentuk. Oleh karena itu, sebagian sel harus memiliki takdir yang berbeda dari sel lainnya. Pembagian takdir bahwa sebagian sel harus menjadi A, sedangkan lainnya menjadi B atau C, ditentukan oleh konsentrasi suatu protein yang bernama morfogen. Namun, dari penelitian ditemukan bahwa, meskipun konsentrasi morfogen dapat berfluktuasi, sampai taraf tertentu ternyata hal itu tidak mempengaruhi proses perkembangan: A tetap menjadi A, dan B tetap menjadi B [1].</p>
<p>Pentingnya Pemodelan Matematika</p>
<p>Dalam dunia sains, seberapa baik pemahaman kita terhadap suatu fenomena diukur dengan seberapa jauh kita bisa memprediksi perilaku fenomena tersebut. Alat yang biasa digunakan untuk memprediksi dalam hal ini adalah pemodelan matematika. Dalam Systems Biology, pemodelan matematika memainkan peranan yang sangat penting untuk memahami perilaku dinamis yang dihasilkan oleh jaringan biologi. Kerumitan yang terdapat dalam jaringan ini, menjadikan proses pemodelan ini menjadi semakin menarik dan menantang. Salah satu contohnya adalah banyaknya komponen penyusun jaringan biologi akan menghasilkan sistem persamaan matematika yang sangat banyak (bisa sampai ratusan, ribuan atau lebih persamaan). Terlebih lagi, persamaan ini biasanya bersifat nonlinear. Selain itu, sebagian jaringan menghasilkan reaksi tertentu dalam waktu yang sangat singkat, sedangkan jaringan lainnya memerlukan waktu yang sangat lambat [1,3]. Perbedaan ini merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pemodelan.</p>
<p>Karena demikian rumitnya jaringan biologi yang berakibat pada rumitnya proses pemodelan matematika, kita memerlukan terobosan-terobosan baru dalam proses pemodelan dan pemecahan persamaannya secara efektif dan efisien. Dalam hal ini, kerjasama antara ilmuwan dari berbagai bidang seperti biologi, matematika, fisika, kimia, informatika, dan lainnya mutlak diperlukan.</p>
<p>Systems Biology di Belanda</p>
<p>Belanda menempati urutan ketiga negara di Eropa yang memberikan perhatian yang sangat besar dari sisi pendanaan riset dalam bidang System Biology. Urutan pertama dipegang oleh Jerman yang mengalokasikan dana sekitar EUR 300 juta, kedua adalah Inggris dengan EUR 100 juta, dan Belanda sendiri sekitar EUR 50 juta [5]. Pusat penelitian System Biology di Belanda berada dalam satu konsorsium yang bernama Netherlands Consortium for Systems Biology. Ada sekitar 8 pusat penelitian yang tergabung dalam konsorsium ini, diantaranya Cancer Genomic Center (CGC), Center for BioSystems Genomics (CBSG), dan Netherlands Bioinformatics Center (NBIC). Kesemua organisasi tersebut tersebar di beberapa universitas di Belanda, seperti Universiteit van Amsterdam, TU Delft, Wageningen Universiteit, dan TU Eindhoven.</p>
<p>Referensi<br />
[1] U. Alon, An Introduction to Systems Biology, Chapman &amp; Hall, 2007<br />
[2] K. Kaneko, Life: An Introduction to Complex Systems Biology, Springer, 2006<br />
[3] E. Klipp, R. Herwig, A. Kowald, C. Wierling, H. Lehrach, Systems Biology in Practice, Concepts, Implementation, and Application,Wiley-VCH Verlag, 2005<br />
[4] www.systemsbiology.org<br />
[5] Kick-Off Symposium Netherlands Consortium for Systems Biology, 15-16 Oktober 2009, Noordwijkerhout, Netherlands</p>
<p>* Penulis adalah mahasiswa S3 di bidang Systems Biology, Wageningen University and Research center, Belanda</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/systems-biology-suatu-pendekatan-dalam-memahami-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengukuran kadar glutamat dalam otak dengan biosensor</title>
		<link>http://www.istecs.nl/pengukuran-kadar-glutamat-dalam-otak-dengan-biosensor/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/pengukuran-kadar-glutamat-dalam-otak-dengan-biosensor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 14:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>istecs_nl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin ISTECS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[oleh:  Wahono*

Otak merupakan pusat sistem saraf yang melangsungkan fungsi-fungsi vital seperti proses pembelajaran, emosi, dan gerak motorik. Dalam prosesnya, sel saraf sebagai penyusun otak dengan jumlah sekitar 50-100 miliar berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui sinyal kimia dengan perantara yang disebut dengan neurotransmitter. Neurotransmitter utama yang paling umum ditemukan di mamalia adalah glutamat dan asetilkolin.

Gambar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">oleh:  Wahono*</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-90 aligncenter" title="Foto" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/08/Foto2-237x300.jpg" alt="Foto" width="181" height="228" /></p>
<p>Otak merupakan pusat sistem saraf yang melangsungkan fungsi-fungsi vital seperti proses pembelajaran, emosi, dan gerak motorik. Dalam prosesnya, sel saraf sebagai penyusun otak dengan jumlah sekitar 50-100 miliar berkomunikasi satu dengan yang lainnya melalui sinyal kimia dengan perantara yang disebut dengan neurotransmitter. Neurotransmitter utama yang paling umum ditemukan di mamalia adalah glutamat dan asetilkolin.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-87 aligncenter" title="gambar 1 copy" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/08/gambar-1-copy1-300x263.jpg" alt="gambar 1 copy" width="145" height="128" /></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 1. Struktur asam l-glutamat</p>
<p>Sekitar tahun 1930-an, telah ditemukan bahwa jaringan dalam otak menunjukkan aktivitas glutamat yang tinggi, dan juga ditemukan bahwa glutamat terlibat dalam metabolisme utama pada pasien yang mengidap kelainan mental [Krebs, 1935]. Dalam 10 tahun terakhir ini, disimpulkan bahwa glutamat memegang peranan penting dalam banyak aktivitas otak seperti perkembangan otak itu sendiri, pembentukan daya ingat, dan seringkali dikaitkan dengan beberapa kelainan atau kerusakan dalam saraf seperti stroke, epilepsi, dan schizophrenia [Tian et.al, 2009].<br />
Untuk mempelajari tentang metabolisme dan berbagai peranan glutamat dalam otak, dalam banyak studi digunakan model tikus.<br />
Beberapa metode telah dikembangkan untuk memonitoring kadar glutamat dalam otak. Saat ini, ada dua metode umum yang masih eksis yaitu : mikrodialisis dan biosensor. Mikrodialisis adalah metode analitik yang paling umum digunakan. Dengan teknik ini, analit dalam cairan ekstraselular berdifusi melalui membran semipermeabel dan diukur dengan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC). Kekurangan dari metode ini adalah ukuran probe/perangkat yang ditanam dalam otak terlampau besar (d = 150 mikron) sehingga dapat menimbulkan kerusakan  dalam jaringan otak yang besar. Kekurangan lainnya adalah waktu koleksi sampel yang lama, sekitar 10-20 menit, ini menjadi penting karena tidak merefleksikan perubahan dinamis kadar glutamat dalam area otak. Sebagai alternatif, biosensor menawarkan pengukuran secara online, merefleksikan kadar glutamat secara langsung. Di sisi lain, perangkat pendeteksian yang digunakan memiliki diameter yang berkisar antara 10-25 mikron sehingga dapat meminimalisir kerusakan dalam jaringan otak.<br />
Biosensor terdiri atas dua bagian penting, yaitu elemen pengenalan dan transducer. Elemen pengenalan yang biasanya digunakan adalah enzim, antibodi, protein, asam nukleat, dan dapat juga mikroorganisme [Schuhmann, 2002]. Transducer yang dimaksud adalah tempat elemen pengenal ini terikat yang dapat mengubah sinyal kimia menjadi sinyal elektrik yang terkuantivikasi.<br />
Gambar 2 berikut adalah contoh dari desain sensor yang umum digunakan</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-88 aligncenter" title="gambar 2" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/08/gambar-21.jpg" alt="gambar 2" width="624" height="508" /></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 2 Desain mikrosensor dengan platina dan serat karbon sebagai transducer</p>
<p>Transducer yang umum digunakan adalah platina dan serat karbon. Dalam kaitannya dengan biosensor glutamat, enzim glutamat oksidase (Glu-Ox) ditautkan pada platina atau serat karbon. Enzim ini akan mengenali substratnya yang tak lain adalah glutamat dan mengubahnya menjadi produk, asam alpha-ketoglutarat. Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-89 aligncenter" title="reaksi 1" src="http://www.istecs.nl/wp-content/uploads/2009/08/reaksi-1.jpg" alt="reaksi 1" width="436" height="87" /></p>
<p>Saat Glu-Ox mengubah glutamat menjadi alpha-ketoglutarat, Glu-Ox berada dalam keadaan tereduksi. Glu-Ox dalam keadaan tereduksi ini dapat teroksidasi kembali dengan adanya oksigen. Hidrogen peroksida (H2O2) yang dihasilkan dari proses inilah yang akhirnya terukur dengan memberikan beda potensial positif pada sel. Sehingga dengan demikian, arus yang terukur merefleksikan jumlah glutamat yang teramati.<br />
Kini yang menjadi tantangan dari biosensor ini adalah sensitivitas dan selektivitas. Sejak aplikasi biosensor ini in vivo, kehadiran biomolekul lain dalam lingkungan ekstraselular menjadi tidak terelakkan, diantaranya adalah asam askorbat, dopamin, sistein, dihidoksifenil asam asetat (DOPAC), dan uric acid. Konsekuensinya adalah terganggunya pengukuran kadar glutamat dengan dapat teroksidasinya beberapa biomolekul pada potensial kerja pengukuran glutamat. Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan ini. Yang pertama adalah memberikan beda potensial yang jauh lebih rendah sehingga molekul lainnya tidak dapat teroksidasi pada potensial ini. Di sisi lain, glutamat pun menjadi rendah sensitivitasnya. Hal ini dapat ditanggulangi dengan menggunakan mediator yang dapat bekerja pada potensial rendah dan dapat meningkatkan transfer elektron pada permukaan transducer. Hal lain yang dapat dilakukan adalah melapisi sensor dengan membran selektif yang hanya meloloskan hidrogen peroksida dan oksigen.<br />
Pengembangan biosensor glutamat ini masih berlangsung sampai sekarang terutama dalam hal pemilihan material dan membran selektif untuk mengeliminasi biomolekul pengganggu.</p>
<p>* Penulis adalah Mahasiswa S3 di Biomonitoring and Sensoring Group<br />
Groningen University, Belanda</p>
<p>Referensi :<br />
Faming Tian, Alexander V, Gourine, Robert T. R. Huckstepp, Nicholas Dale. Anal. Chim. Acta. 645 (2009) 86<br />
H. Schuhmann. Oxford University Press. (2002) 187<br />
H.A. Krebs. Journal of Biochem. 29 (1935) 1951</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/pengukuran-kadar-glutamat-dalam-otak-dengan-biosensor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>History of ISSM</title>
		<link>http://www.istecs.nl/history-of-issm/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/history-of-issm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 22:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISSM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[ISSM 1997
1st Indonesian Students Scientific Meeting in Europe 1997 (ISSM’97)
2-3 August, Wiesbaden, Germany
ISSM 1998
2nd Indonesian Students Scientific Meeting 1998 (ISSM’98)
4-5 September, Paderborn, Germany
ISSM 1999
Indonesian Students Scientific Meeting 1999 (ISSM’99)
8-9 October, Kassel, Germany
ISSM 2000
Revitalisation of the Role of Indonesian Scientist in Increasing National Competence
6-7 October, Paris, France
ISSM 2001
Global Networking and Research Contributions towards Indonesian Prosperity
25-26 August, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ISSM 1997</strong><br />
1st Indonesian Students Scientific Meeting in Europe 1997 (ISSM’97)<br />
2-3 August, Wiesbaden, Germany</p>
<p><strong>ISSM 1998</strong><br />
2nd Indonesian Students Scientific Meeting 1998 (ISSM’98)<br />
4-5 September, Paderborn, Germany</p>
<p><strong>ISSM 1999</strong><br />
Indonesian Students Scientific Meeting 1999 (ISSM’99)<br />
8-9 October, Kassel, Germany</p>
<p><strong>ISSM 2000</strong><br />
Revitalisation of the Role of Indonesian Scientist in Increasing National Competence<br />
6-7 October, Paris, France</p>
<p><strong>ISSM 2001</strong><br />
Global Networking and Research Contributions towards Indonesian Prosperity<br />
25-26 August, Manchester, UK</p>
<p><strong>ISSM 2002</strong><br />
Empowerment of Small and Medium Enterprises through Environment Oriented Technology<br />
4-6 October, Berlin, Germany</p>
<p><strong>ISSM 2003</strong><br />
International Cooperation in Research and Education for Community Development<br />
9-10 October, Delft, The Netherlands</p>
<p><strong>ISSM 2004</strong><br />
Industrial Sustainability for National Economic Recovery in Developing Contries<br />
7-9 October 2004, Aachen, Germany</p>
<p><strong>ISSM 2005</strong><br />
Toward a better Indonesia: Perspectives from Indonesian Students in Europe<br />
30th September – 1st October, 2005, Paris, France</p>
<p><strong>ISSM 2006</strong><br />
Developing Agriculture Based on Science, Technology and Energy Conservation<br />
4 November 2006, Heidelberg, Germany</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/history-of-issm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISSM 2008</title>
		<link>http://www.istecs.nl/issm-2008/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/issm-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 22:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ISSM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[
Theme:
“Sustainable development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach”
13-15 May 2008
Hosted at
Delft University of Technology
Delft, The Netherlands
Organised by
The Institute for Science and Technology Studies (ISTECS), NL and EU Chapter
Indonesian Student Association (PPI) in the Netherlands
in co-operation with
Delft University of Technology
The Embassy of the Republic of Indonesia in the Netherlands
Website: www.issm2008.eu
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Theme:</p>
<p>“Sustainable development in Indonesia: An Interdisciplinary Approach”</p>
<p>13-15 May 2008</p>
<p>Hosted at<br />
Delft University of Technology<br />
Delft, The Netherlands</p>
<p>Organised by<br />
The Institute for Science and Technology Studies (ISTECS), NL and EU Chapter<br />
Indonesian Student Association (PPI) in the Netherlands</p>
<p>in co-operation with<br />
Delft University of Technology<br />
The Embassy of the Republic of Indonesia in the Netherlands</p>
<p>Website: <a href="http://www.issm2008.eu/">www.issm2008.eu</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/issm-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Online</title>
		<link>http://www.istecs.nl/diskusi-online/</link>
		<comments>http://www.istecs.nl/diskusi-online/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 10:21:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diskusi Online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.istecs.nl/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[To Be Announced
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>To Be Announced</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.istecs.nl/diskusi-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

